Seperti halnya buruh, aparat sipil negara  bekerja untuk menjalankan sebuah mesin. Mesin raksasa yang bernama birokrasi. Jika buruh sektor swasta harus mengikuti pimpinan, pemegang saham dan konsumen, maka birokrat pemerintahan memiliki pimpinan, politisi dan masyarakat pengguna layanan. Ya, politisi sejajar dengan pemegang saham karena pada akhirnya merekalah yang menentukan dan yang paling diuntungkan dengan jalannya mesin ini. Semacam kapitalisme terselubung.

Bukan hal mudah, tepatnya banyak tantangan dalam birokrat menjalankan mesinnya, apalagi terlanjur menghadapi citra buruk masyarakat. Buruh birokrasi bukan hanya mengalami rasa keterasingan terhadap dirinya saat bekerja tapi juga perjuangan terus menerus akan adanya penindasan kelas, termasuk konflik identitas. Yang terkadang saat melakukan ‘perlawanan’ bahkan demi kelancaran jalannya mesin, seorang buruh birokrasi harus menghadapi stigma negatif dari segenap pimpinan dan perangkatnya. Mampukah birokrat melepaskan segenap potensinya untuk berkarya demi kepentingan bangsa dan negaranya?

Kali ini Birokrat Menulis, mengumpulkan beberapa artikel yang pernah dimuat yang relevan dengan perjuangan buruh birokrat menghadapi tantangannya. Semoga mampu menjadi pencerah jiwa dan semangat.

Mari terus berjuang dan selamat memaknai hari buruh.

Bebaskan Birokrasi Dari Politisi

Oleh: ANDI P. RUKKA*   Pendahuluan Keberhasilan Indonesia untuk menjadi sebuah negara yang maju, mandiri, sejahtera, adil dan makmur sangat ditentukan oleh suksesnya pelaksanaan pembangunan di daerah provinsi, kabupaten dan kota.…

Baca selengkapnya