Torehkan Kisah Literasimu

Oleh: PRATIWI RETNANINGDYAH*   Belum pernah dalam hidupku melihat orang belajar bersama dalam jumlah banyak di satu tempat. Di PM, orang belajar di setiap sudut dan waktu. Kami sanggup membaca buku sambil berjalan, sambil bersepeda, sambil antri mandi, sambil antri makan, sambil makan, bahkan sambil mengantuk. Animo belajar ini semakin menggila begitu masa ujian datang.…

Para Birokrat, Menulislah!

Oleh: RUDY M. HARAHAP* Membaca buku Pramudya Ananta Toer pada generasi saya adalah ‘barang haram’. Sebab, walaupun lebih mendekati sosialisme (socialism), pada generasi saya pemikiran Pram lebih diidentikkan sebagai komunisme (communism). Sementara itu, bagi generasi saat ini, membaca buku Pram bukanlah barang haram. Kebanyakan mereka sudah terbiasa memperdebatkan isi buku-buku Pram di perkuliahan ataupun di…

Benarkah Birokrat Jarang Menulis?

Oleh: DODY DHARMA HUTABARAT*   Ada sebuah pertanyaan. Mengapa birokrat terlihat jarang menghasilkan tulisan yang dikonsumsi masyarakat? Pada level individu, ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini, seperti kurang berminat, merasa kurang terampil, atau tidak punya waktu. Pada level institusi, sebenarnya tulisan yang dihasilkan birokrasi sangat banyak. Ada kajian, forecast, nota keuangan, term of reference, rekomendasi,…

Bagaimana Islam Mendorong Critical Thinking?

Oleh: NUR  ANA  SEJATI*   Ternyata bersikap kritis itu ada dalilnya dalam Al Qur’an. Beberapa bulan lalu saya sempat mendapati kutipan yang sangat menarik dari sebuah jurnal terkait manajemen kinerja. Jurnal itu ditulis oleh Bernard Marr, expert dari Italia. Dalam artikelnya yang berjudul Key Performance Questions, Bernard mengawali tulisannya dengan kutipan yang sangat memikat: The…

Islam dan Barat: Oposisi Biner?

Oleh: PRATIWI RETNANINGDYAH*   Lintasan sejarah seringkali menjadi penting untuk memahami bagaimana sebuah tradisi dalam masyarakat bermula, agar kita menjadi masyarakat yang mampu meneruskan tradisi yang sudah baik tersebut. Pun dalam toleransi beragama, terkadang masyarakat kompleks saat ini dengan rezim kepentingannya cenderung melupakan tradisi yang akhirnya dapat berujung pada konflik identitas. Tulisan berikut ini bukan…

Mengapa Menulis

Oleh: NUR ANA SEJATI*   “Wuih…rajin banget..” Entah sudah berapa orang yang berkomentar melihat catatan rapat hari itu. Termasuk komplit. Bahkan sangat komplit. Bahkan ucapan yang mungkin kurang relevan pun ada dalam catatan saya. Bukan tanpa alasan kalau saya memutuskan untuk mencatat semua ucapan kepala bidang saya, termasuk tanya jawab juga saya catat. Mungkin hanya…

Bagaikan Pedang Bermata Dua

Oleh: PRATIWI RETNANINGDYAH*     Saya seringkali menerima email yang tanpa isi. Saya menyebutnya email bodong. Biasanya pengirimnya adalah mahasiswa yang mengirimkan tugas esai untuk mata kuliah yang saya ampu. Pernah saya tanyakan ke beberapa kelas yang mahasiswanya melakukan praktik seperti ini. Jawabannya beragam, mulai “kami biasa begitu ke semua dosen, ma’am,” “takut dianggap cari…